Ahad, 15 Februari 2026, pengurus Forum Lingkar Pena (FLP) Kota Bandung kembali menggelar kegiatan rutin Diskusi Buku, di depan Library Taman Film, Jalan Pasupati, Bandung. Tepat pukul satu siang, dua belas orang duduk melingkar. Mereka terdiri dari para pengurus, volunter, dan peserta umum yang tertarik untuk menyelami kehidupan lewat karya seorang muslim budayawan Indonesia, HAMKA.

Diskusi Buku #2 FLP Bandung kali ini mengangkat kumpulan cerpen Di Dalam Lembah Kehidupan (DDLK) yang diterbitkan oleh Gema Insani cetakan tahun 2017. Moderator acara, Hadi S. Abdullah, Ketua Divisi Karya FLP Bandung 2026, membuka jalannya diskusi dengan tenang. Sementara itu, Khazanah F. N., volunter FLP Bandung, tampil sebagai pemantik diskusinya. Dengan presentasi yang runut dan penuh kehati-hatian, Khaza mengajak peserta untuk menelusuri cerpen-cerpen pilihan HAMKA sembari menyelipkan refleksi pribadi. 

Menyelami Cerpen Favorit


Khaza menyebutkan tiga cerpen yang paling berkesan sehingga melekat dalam ingatan. Cerpen itu adalah Pasar Malam, Encik Utih, dan Bunda Kandung

Dalam Pasar Malam, HAMKA menceritakan kisah seorang tokoh dengan nama panggilan Engku yang hendak menikmati hiruk pikuk pasar malam, tapi terhalang oleh kabar seorang kerabat yang ayahnya sedang sekarat. Dari segi pengisahan dan alur cerita, cerpen ini terbilang sederhana. Namun, dari kesederhanaan itu pembaca seolah diingatkan ihwal rasa syukur dan empati. Saat kita bersenang-senang, ada orang lain yang sedang menanggung derita. Begitu pun sebaliknya. 

Cerpen favorit kedua, Encik Utih, berkisah tentang Isah, seorang perawan tua yang bercita-cita menikah dan mengenakan busana adat, kain sutra berlambak emas. Sayangnya, impian itu harus kandas karena keputusan sepihak dari pamannya, yang telah mengasuhnya sedari kecil sekaligus memberikan tumpangan hidup hingga ia berumur dewasa. Dari cerita ini, peserta jadi belajar tentang makna cukup dan penerimaan diri atas takdir Tuhan. 

Adapun Bunda Kandung sebagai cerpen favorit ketiga pilihan Khaza, menyingkap luka batin seorang anak yang kehilangan sosok sang ibu. 

Suara Peserta Diskusi Buku: Antara Kritik dan Refleksi

Diskusi Buku siang itu berkembang dengan penuh kehangatan. Satu per satu peserta yang sudah membaca buku DDLK diberikan kesempatan untuk turut berbagi opini dari cerpen favorit masing-masing. Ada yang menyoroti tema besar DDLK, yaitu berkutat seputar kesengsaraan hidup, kaum marjinal, dan konflik rumah tangga. 

Hadi menambahkan bahwa penulis bernama lengkap Haji Abdul Malik Karim Amrullah itu kerap menggunakan peribahasa klasik pada karyanya, bahkan bersyair/pantun dalam dialog. Hal ini membuat cerpen terasa seperti jendela budaya masa lalu. 

Salah satu peserta berlatar belakang Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Gia, menjelaskan bahwa hal semacam itu wajar terjadi. Sebagian besar karya HAMKA lahir dengan sedikit-banyak pengaruh dari karya Melayu klasik atau karya yang berkembang pada masanya. Pengaruh tersebut tampak dalam membentuk gaya bahasa, tema didaktik (pendidikan moral), dan struktur cerita. HAMKA memanfaatkan tradisi sastra Melayu lama dan mengombinasikannya dengan pemikiran Islam modern, sehingga karya HAMKA terasa berakar pada budaya Melayu, tapi tetap relevan dengan zamannya. 

Selain itu, peserta lain bernama Utsman juga turut mengomentari soal panjang-pendek cerpen yang beragam dalam buku DDLK, bahkan ada pula yang menyerupai novelet. Menurutnya, hal itu wajar karena pada masa sebelum kemerdekaan belum ada standar baku penulisan cerpen seperti sekarang. 

Dari Diskusi Buku #2, muncullah beberapa catatan kritis peserta. HAMKA dianggap menyoroti budaya Minang yang kaku, hanya berpihak pada kalangan tertentu. Di samping itu, gaya penulisan DDLK lebih banyak menekankan penjelasan langsung. Hal ini bisa dipahami karena pada masa karya itu lahir, tingkat literasi masyarakat masih tergolong rendah. Akibatnya, cerpen-cerpen HAMKA terasa seperti "menggurui" pembaca masa kini. 

Dalam istilah kepenulisan, karya HAMKA lebih banyak telling daripada showing. Jika fiksi modern mengedepankan prinsip show, don't tell, yaitu menyajikan detail yang membuat pembaca menyimpulkan sendiri, HAMKA justru memilih menjelaskan secara gamblang. Misalnya, alih-alih menggambarkan kesedihan dan penderitaan lewat gestur dan tampilan tokoh, ia langsung menulis "ia sangat sedih dan menderita". Namun, di situlah kekuatan dari buku DDLK. Ia menjadi dokumen sosial yang merekam cara berpikir dan menulis pada zamannya. 

Akhirnya, diskusi ditutup dengan foto bersama, bertepatan dengan kumandang azan Ashar. Suasana dan berbagai sudut pandang yang terurai dalam diskusi seolah menekankan pesan moral yang dibawa penulis asal Sumatera Barat itu bahwa hidup bukan hanya tentang mengejar kesenangan dunia, melainkan juga tentang mengingat mereka yang sedang berjuang dalam kepayahan. 

FLP Bandung melalui kegiatan rutin ini kembali menyadarkan semesta bahwa membaca karya sastra merupakan jalan menuju empati, bukan aktivitas intelektual semata. Dari lembah kehidupan yang ditulis HAMKA, peserta pun belajar bahwa kita mesti belajar merasa senang dan sedih secukupnya, serta meluaskan syukur sebesar-besarnya. []