| Dokumentasi suasana Diskusi Buku #1 FLP Bandung: Membaca Laut Bercerita Foto: pengurus FLP Bandung |
Bandung, Ahad pagi itu, udara di sekitar Jalan Layang Pasupati terasa segar meski lalu lintas kota sudah mulai ramai. Di depan Library Taman Film, sekelompok anak muda duduk melingkar dengan wajah penuh antusiasme. Mereka berkumpul bukan hanya untuk membaca, melainkan untuk berdiskusi-menyigi sebuah karya yang sarat luka sejarah dan pencarian makna, Laut Bercerita karya Leila S. Chudori.
Diskusi Buku #1 FLP Bandung digelar pada 25 Januari 2026, pukul 09:30-11.30 WIB. Kegiatan ini menjadi pertemuan luring perdana antara pengurus dan volunter FLP Bandung, sekaligus langkah awal membudayakan literasi di tengah publik. Tujuannya tidak lain untuk membentuk nalar kritis masyarakat, terutama anak muda, agar terbiasa membaca, menulis, dan berargumentasi secara terstruktur.
Forum dibuka oleh moderator, Sukmawati, dengan suasana yang hangat. Pemantik diskusi, Yanto Purwanto (anggota muda FLP Bandung sekaligus staf Divisi Kaderisasi), memaparkan isi dan relevansi novel Laut Bercerita kepada peserta. Buku yang pertama kali terbit pada Oktober 2017 ini menghadirkan dua sudut pandang: Biru Laut, seorang aktivis yang hilang, dan Asmara Jati, sang adik yang berprofesi sebagai dokter forensik, mencari jejak kakaknya dan kawan-kawan yang tak pernah kembali.
Percakapan yang mengalir ringan dan penuh keakraban ini dihadiri oleh delapan peserta, terdiri dari empat pengurus dan empat volunter. Mereka berbagi pengalaman membaca terkait novel Laut Bercerita. Ada yang mengaitkan novel tersebut dengan kondisi politik Indonesia terkini, menyoroti tingkat literasi politik masyarakat. Ada pula yang meninjau dari perspektif sosiologi sastra, bahwa karya sastra lahir dari fenomena sosial sebagai media kritik dan upaya memanusiakan manusia.
Menariknya, perdebatan juga muncul soal unsur erotisisme dalam karya sastra. Beberapa peserta menilai hal itu sering kali hanya menjadi "bumbu penyedap" yang tidak perlu. Di tengah beragam pandangan itu, Hadi S. Abdullah menambahkan perspektif yang lebih personal. "Novel ini membuat saya belajar menghadapi kehilangan," ujarnya, menegaskan bahwa Laut Bercerita bukan hanya kisah tentang sejarah kelam, melainkan juga tentang bagaimana seseorang memaknai luka dan ketidakhadiran orang-orang terdekat.
Diskusi Buku pertama ini bukan sekadar membicarakan isi buku. Ini menjadi ruang belajar bersama, tempat argumen diuji, beragam sudut pandang dipertemukan, dan ingatan sejarah dirawat secara kolektif. Adapun pilihan Laut Bercerita sebagai buku pertama bukan tanpa alasan. Novel setebal 379 halaman dan sudah mencapai cetakan ke-100 (pada Juli 2025) ini sempat ramai diperbincangkan publik. Isinya senantiasa relevan dengan kondisi bangsa yang masih bergulat dengan ketidakstabilan dan tuntutan masyarakat yang belum terjawab tuntas.
Diskusi Buku #1 FLP Bandung menandai langkah awal yang penting. Dari ruang temu terbuka di depan Library Taman Film, lahirlah percakapan yang menyentuh isu besar, yaitu kehilangan, sejarah, dan keberanian untuk bersuara. Seperti Laut yang terus bercerita, forum ini ingin mengingatkan siapa saja bahwa literasi bukan hanya soal membaca, melainkan juga tentang keberanian menafsirkan dunia, merawat ingatan, dan membangun nalar kritis bersama. []
| Foto bersama usai Diskusi Buku #1 FLP Bandung |
0 Comments
Post a Comment