| Peserta Perjalanan Pena batch 4 berfoto di Taman Sejarah Balai Kota didampingi oleh pemandu dan fasilitator pada Ahad, 19 April 2026. |
Bandung selalu punya cara untuk menulis dirinya. Dari jalan
yang ramai, bangunan tua yang masih berdiri, hingga suara warga yang berbaur di
ruang publik. Perjalanan Pena Batch 4 FLP Kota Bandung x Geowana Ecotourism pada Ahad (19/4) lalu,
dengan tema Bandung Menulis Dirinya, mengajak peserta menyusuri denyut
kota sambil menuliskan refleksi. Seperti pesan Ir. Soekarno yang tak lekang
oleh waktu: “Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah.” Maka menulis
perjalanan ini adalah cara sederhana tapi penting untuk menjaga ingatan bersama.
Tema Bandung Menulis Dirinya lahir dari kesadaran bahwa
kota bukanlah sebatas ruang fisik, melainkan naskah yang terus ditulis oleh penghuninya.
Sejak masa Bupati R.A. Wiranatakusumah (1794–1829), Bandung dipercepat
pembangunannya oleh Herman Willem Daendels melalui besluit 25 September
1810. Tanggal itu kini kita kenal sebagai hari jadi Kota Bandung. Dari sana, Bandung
berkembang menjadi kota kolonial, pusat pendidikan, hingga kota modern dengan
identitas budaya yang kompleks. Sejarah panjang ini kemudian menjadi bahan
bakar untuk menulis masa depan.
| Gan Gan Jatnika dari Geowana Ecotourism menjelaskan salah satu bangunan bersejarah di kawasan Asia Afrika kepada peserta Perjalanan Pena batch 4. |
Perjalanan Pena batch 4 dimulai pukul delapan dari
Taman Sejarah Balai Kota, lalu bergerak ke Taman Vanda, menyusuri sisi timur
Braga hingga Asia Afrika, singgah di Monumen Titik Nol, berbalik ke Museum KAA,
lalu menelusuri sisi barat Braga menuju Masjid Al-Ukhuwah, dan berakhir di
Museum Sejarah Kota Bandung. Setiap titik perjalanan ini menjadi “bab” yang
mengajak peserta berhenti, mengamati, dan menulis refleksi. Di Braga, misalnya,
jejak kolonial masih terasa lewat bangunan art deco yang berdiri kokoh.
Di Museum Sejarah, memori kota dikumpulkan, seolah menutup perjalanan dengan
epilog yang penuh makna.
Bagi peserta, pengalaman ini bukan sekadar perjalanan. Mereka dipandu dan diajak untuk menangkap detail kecil seperti suara kendaraan, aroma kopi dan roti dari
kafe, mural di dinding, hingga percakapan orang asing yang lewat. Semua bisa
menjadi bahan tulisan reflektif. Menulis di tengah perjalanan membuat mereka
sadar bahwa kota adalah teks hidup. Sejarah tidak lagi terasa kaku seperti di
ruang kelas. Sejarah hadir langsung di tempat sejarah itu berdiri.
Alfath, salah satu peserta, mengungkapkan pengalamannya, “Meskipun
sudah lama tinggal di Bandung, tapi masih banyak hal yang belum aku tahu. Dan
kalau kita mau tahu sejarahnya, sebenarnya gampang. Bisa dilihat dari
bangunan-bangunannya dan penjelasan yang tersedia di tembok-tembok kota...”
Gan Gan Jatnika sebagai pemandu perjalanan kali ini menjelaskan tentang Sejarah Bandung yang berlapis. Pada masa prasejarah, wilayah
ini pernah menjadi danau besar akibat letusan Gunung Tangkuban Parahu.
Kemudian, pada masa Kerajaan Sunda (abad ke-8 hingga 16), Bandung menjadi
bagian dari kekuasaan kerajaan. Memasuki abad ke-20, Bandung dikenal sebagai
kota peristirahatan kolonial, lalu menjadi saksi penting Konferensi Asia-Afrika
1955 di Gedung Merdeka. Kini, Bandung adalah ibu kota Jawa Barat, pusat pendidikan,
budaya, dan ekonomi kreatif. Identitas kota terbentuk dari perpaduan sejarah
kolonial, modernisasi, dan budaya lokal Sunda.
Perjalanan Pena batch 4 membuktikan bahwa mengenal
sejarah bisa dilakukan dengan cara menyenangkan, yaitu dengan cara berjalan
kaki, mengamati, dan menulis. Sebab sejarah merupakan bahan bakar untuk menulis
masa depan. Dengan menulis refleksi, peserta tidak hanya merekam, tetapi juga
memberi makna baru pada sejarah dan perjalanan itu sendiri. Bandung menulis
dirinya melalui langkah peserta dan peserta menulis Bandung melalui kata-kata
mereka.
Peserta Perjalanan Pena batch 4 berfoto di Museum Sejarah Kota Bandung.
Perjalanan ini memang berakhir di Museum Sejarah Kota Bandung, tetapi tulisan para peserta tidak berhenti sampai di sana. Mereka membawa pulang catatan, komitmen kecil, dan kesadaran baru terhadap sejarah Bandung. Dan tentu saja ini selaras dengan pesan Ir. Soekarno: “Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah.” []
0 Comments
Post a Comment