Bila
aku sedang swafoto kemudian mengunggahnya di media sosial, bukan berarti aku
sedang mengindahkan diri. Melainkan aku menguji diri, bahkan sedang mengejek
dengan sengit. Bagi seorang penulis, wajah di layar ponsel itu tak lebih dari
sekadar draf kasar. Aku melihat kerutan di ujung mata bukan sebagai tanda
penuaan, melainkan sebagai tanda baca yang salah letak. Aku menatap lurus ke
pupil mataku sendiri, mencoba mencari sisa-sisa kejujuran yang mungkin belum
habis aku kuras untuk dijadikan dialog dalam bab terakhir novelku.
Penulis
perlu melihat diri sendiri untuk mendapatkan inspirasi. Bahkan proses kreatif
seorang penulis terjadi dalam berbagai hal. Misteri. Mungkin itu adalah
kata yang tepat untuk menggambarkan bagaimana seorang penulis mendapatkan ide
dan gagasan yang akan menjadi bahan penulisan.
Bisa
saja ia pergi ke gunung Sewu untuk mendapatkan petunjuk, atau ia melakukan
riset besar ke sebuah perusaan besar ternama: Mustika Ratu. Barangkali pula ia
pergi ke tempat paling bau, kotor, dan menjijikan bagi sebagian orang yaitu
gunung sampah Bantar Gerbang.
Apapun akan dilakukan agar tulisan-tulisan yang sedang ia garap dapat segera rampung, karena proses kreatif seorang penulis tidak berhenti setelah tulisan pertama selesai. Ada proses-proses lain yang harus segera dilakukan agar sebuah buku sedap dibaca oleh pembaca. Atau, jika mengutip Dee Lestari, buku yang mampu memikat dan mengikat pembacanya. Serumit atau sesederhana apapun plotnya.
Omong-omong
Dee Lestari, kedua bukunya yaitu Di Balik Tirai Aroma Karya dan Aroma
Karsa telah dijadikan bahan diskusi buku dwimingguan FLP Bandung pada 26
April 2026 olehku. Akhirnya, bisa
dikupas secara lepas pada hari itu. Lega rasanya.
Dua
minggu membaca ulang buku kiat penulisan dan proses kreatif dan buku novel
setebal 710 halaman itu ternyata hanya butuh dua jam untuk membahas keduanya.
Layaknya persiapan memasak; bumbu dan bahan-bahan memasak kita persiapan
berjam-jam lamanya. Setelah menjadi makanan hanya dalam hitungan menit ludes
sudah. Begitu juga dengan membahas kedua buku Dee Lestari itu.
Kita
mulai dengan bahas sisi gelap penulis.
Pada
bab “The Dark Side of The Moon”, Mbak Dee—kita panggil begitu untuk
seterusnya—tanpa sengaja menambahkan bab baru dari target awal. Setelah menulis
dan melahirkan ‘bayi gendut’ yaitu Aroma Karsa, ia memutuskan kembali
menuliskan proses kreatifnya di buku Di Balik Tirai Aroma Karsa. Entah
apa yang merasuki Mbak Dee pada saat itu.
Hal
yang biasa terjadi ketika seorang penulis telah berhasil merampungkan tulisan
biasanya adalah para penulis mengalami babyblues atau mengalami
kebuntuan menulis. Namun, Mbak Dee memutuskan untuk berani mulai, berani
gagal, dan mungkin berani berhasil. “Seize the moment - saying
yes to all opportunities,” begitu katanya.
Bagi
seorang penulis profesional, terdapat dua garis tebal yang membagi kegiatan
menulis; (1) menulis sebagai rutinitas harian menulis dan (2) menulis untuk
berkarya. Keduanya memiliki target masing-masing dan keduanya punya efek
retrospektif.
Kita
kembali ke bab pertama, tentang bagaimana kebiasaan sehari-hari penulis menjadi
ide dan tahap awal pembuatan buku. Menulis akan terasa bernilai otentik jika
setiap tokoh dan karakter berada di sekitar kita. Itulah yang dilakukan Mbak
Dee untuk memulai penggarapan Aroma Karsa. Sejak kecil, ia gemar membaui
sesuatu bahkan aroma yang begitu kompleks. Hingga kemudian, kekayaan aroma itu
dieksplorasi dalam bentuk fiksi dengan penggunaan asosiasi, analogi, dan metafora.
Itu semua hampir selalu dibutuhkan ketika ia coba mendeskripsikannya.
Dari
sebuah buku, meracik parfum, TPA Bantar Gebang, Mustika Ratu hingga bertemu
pembalap Indonesia: Ananda Mikola, Moreno Soeprapto, dan Rio Haryanto, ia
jalani demi memperkuat cerita di dalam buku. Riset perlu dilakukan penulis
bukan sebagai kekuatan bercerita, melainkan untuk memperkuat cerita yang
ditulisnya. (Dee Lestari, 2019: 65)
Lebih
jauh lagi, Mbak Dee menelusuri Gunung Lawu dari dasar Jakarta, tempat di mana
seribu bunga, seribu jamu, dan seribu misteri bersemayam di sana. Hewan-hewan
langka, seperti kingkong,
serta berbagai flora eksotis yang jarang terjamah, ia telusuri demi menangkap
esensi magis yang tersembunyi di balik kabut lereng gunung. Ketekunan ini bukan
sekadar upaya mengumpulkan data, melainkan proses peleburan diri ke dalam dunia
yang hendak dibangunnya, memastikan setiap detail aroma dan atmosfer yang
tertuang di atas kertas memiliki nyawa serta kedalaman emosional yang mampu
memikat pembaca.
Diskusi berlanjut mengenai proses penting dalam menulis cerita, yaitu menimbang cerita. Menimbang cerita bukan sekadar perihal memilah diksi, melainkan memberikan ruang waktu dan bingkai kerja yang pada akhirnya akan berpengaruh ke masa tenggat (deadline).
Ide
adalah makhluk abstrak. Agar bisa dinikmati oleh pembaca, ide membutuhkan
disiplin, komitmen, juga struktur yang kokoh untuk menjelma menjadi narasi yang
utuh. Lalu, ada tiga perspektif yang penting untuk penulisan Aroma Karsa:
perspektif narator, perspektif pembaca, dan perspektif karakter. Masing-masing
dibutuhkan agar dapat melihat jelas bagaimana sebuah tulisan dapat bergerak
dinamis, tidak terjebak dalam subjektivitas yang sempit.
Ada
ungkapan yang mengatakan, hidup boleh tidak masuk akal, tetapi fiksi harus
masuk akal. Ungkapan itu tidak berarti menggugurkan elemen fantasi dalam fiksi.
Melainkan sebuah pengingat bahwa di balik imajinasi yang liar sekalipun, logika
internal harus tetap terjaga dengan presisi. Saat membangun dunia yang magis,
penulis justru dituntut untuk lebih ketat menetapkan hukum-hukumnya sendiri
agar pembaca mampu memercayai apa yang mereka baca. (Dee Lestari, 2019: 101)
Sebab,
sebagaimana Aristoteles menekankan dalam Poetics, sebuah karya
yang meyakinkan bahwa logis jauh lebih berharga daripada kebenaran yang tidak
masuk akal. Ketika batasan dunia dibangun dengan disiplin, imajinasi bukan lagi
sekadar pelarian, melainkan cermin yang memantulkan kebenaran manusiawi yang
lebih dalam.
Bayangkan
sejenak adegan sederhana ini. Seorang perempuan sedang menikmati secangkir kopi
di sebuah kafe di pusat kota. Jika aku atau kamu adalah seorang penulis, lalu
bagaimana kah kita menggambarkan si gadis tersebut? Mulai dari mana dan
berakhir di mana? Itulah yang akan dibahas di bab berikutnya, “Proses
dan Keputusan Kreatif”.
Setiap
penulis harus punya siasat. Setiap adegan harus diperhitungkan dengan matang
agar plot yang terjadi dalam cerita tidaklah klise. Dalam seni sensualitas,
bukan seksualitas, menurut Mbak Dee adalah bagian yang tidak disukainya. Maka
siasat itu diperlukan agar deskripsi tidak terjebak pada narasi dangkal yang
sekadar mengeksploitasi indra. Penulis harus mampu meramu detail—aroma kopi
yang menguar, jemari yang menyentuh cangkir hangat, hingga tatapan mata yang
menyimpan rahasia—menjadi jembatan emosional yang menghubungkan pembaca dengan
kedalaman batin sang tokoh.
Siasat
ini bukan tentang memanipulasi, melainkan tentang memilih kata yang paling
jujur untuk menangkap momen, mengubah keheningan di kafe tersebut menjadi
resonansi jiwa yang tak terlupakan. Dengan demikian, setiap narasi yang
dibangun bukan sekadar deretan kalimat, melainkan manifestasi dari kepekaan
penulis dalam menangkap esensi manusiawi. Ketika detail-detail kecil tersebut
dirangkai dengan presisi, ia akan melampaui batas fisik, menyentuh relung batin
pembaca, dan meninggalkan jejak yang jauh lebih membekas daripada deskripsi
eksplisit mana pun. Itulah puncak dari siasat kreatif yang sesungguhnya.
Sebab
pada akhirnya, karakter-karakter yang diciptakan oleh penulis dapat menjadi
cerminan dari penulis itu sendiri. Maka busur karakter harus dibangun di dalam
peristiwa demi peristiwa yang terangkai di sepanjang cerita. Menurut Mbak Dee
(2019: 129), fiksi adalah potret hidup yang didramatisasi.
Mari
mencontoh dialog. Dialog merupakan mimik percakapan dalam kehidupan nyata,
tetapi tidak persis sama. Dialog dalam fiksi harus menjadi rangkaian percakapan
yang bertujuan spesifik, memuat potensi konflik, disusun oleh kata-kata yang
telah dipertajam, dirampingkan, dan dipoles sehingga setiap kalimat yang
terucap bukan sekadar basa-basi, tetapi instrumen untuk menyingkap watak atau
menggerakkan alur menuju klimaks. Dengan demikian, dialog yang efektif akan
mampu menjaga ritme narasi tetap kencang, memikat perhatian pembaca, serta
memastikan bahwa setiap interaksi antar tokoh memiliki bobot emosional yang
mendalam dan relevan dengan esensi cerita yang sedang dibangun. Dialog yang
ditulis dengan presisi semacam ini tidak hanya sekadar mengisi ruang kosong
dalam naskah melainkan menjadi denyut nadi yang menghidupkan karakter.
Pada
pembahasan berikutnya adalah proses penyuntingan yang menuntut ketajaman
intuisi penulis dalam memangkas bagian-bagian yang tidak esensial. Setiap baris
dialog perlu ditimbang kembali fungsinya; jika sebuah tuturan tidak memperdalam
pemahaman pembaca terhadap jiwa karakter atau justru menghambat laju konflik,
maka ia harus berani dipangkas. Proses ini memastikan bahwa kejernihan suara
tokoh tetap terjaga, menciptakan resonansi emosional yang kuat sehingga pembaca
tidak hanya sekadar membaca, tetapi benar-benar merasakan ketegangan serta
kedalaman setiap interaksi yang tersaji di balik lembaran narasi tersebut.
Diskusi kemudian beralih pada esensi dari keheningan di antara bab-bab yang belum tuntas diberi ruang lebih dalam untuk dibahas. Keterbatasan waktu dan ketidaktuntasan materi menjadi bebanku—sebagai pemantik diskusi—untuk melanjutkan pembahasan dari kedua buku tersebut. Sehingga sebelum sesi berakhir, moderator lanjut membuka sesi tanya-jawab dan memberikan kesimpulan.
Pertemuan ini pun ditutup dengan kesepakatan untuk kembali membedah buku lain sesuai jadwal pada agenda mendatang, dengan harapan agar semangat literasi yang telah terbangun dapat terus terjaga dan memberikan dampak positif bagi pengembangan wawasan kolektif para peserta. []
________
Penulis: Hadi S. Abdullah (Anggota Andal, Ketua Divisi Karya FLP Bandung)
0 Comments
Post a Comment