sumber gambar: goodreads.com

 Oleh: Usep Njen (Ketua Divisi Kaderisasi FLP Kota Bandung 2026)

Novel terbitan tahun 2023 ini mengungkap beragam luka, dosa, dan asa yang seolah tak pernah benar-benar sirna. Ia merangkai segudang harapan, lalu menghantamnya dengan keputusasaan; membawa pembaca dari cerita yang kelam, hingga perlahan menemukan titik terang. Sisi Tergelap Surga merupakan karya Brian Khrisna yang berhasil membuatku jatuh cinta pada cara ia bercerita. Dari sekian banyak karyanya yang pernah kubaca, novel inilah yang paling membuatku terpukau.

Sebelum melangkah lebih jauh ke dalam ulasan Sisi Tergelap Surga, ada baiknya kita berkenalan dulu dengan sosok di balik karya ini. Sebab sering kali kita begitu akrab dengan ceritanya, tetapi justru asing dengan penulisnya.

Brian Khrisna lahir di Bandung pada 17 Januari. Ia mulai aktif menulis melalui platform Tumblr sejak tahun 2010 dengan nama pena “Mbeeer”. Namun, kecintaannya pada dunia tulis-menulis sudah tumbuh jauh sebelumnya. Bahkan sejak masa kejayaan Facebook sekitar tahun 2007, ia telah menulis berbagai cerita pendek. Hingga kini, karyanya telah mencapai belasan judul, beberapa di antaranya bahkan menjadi bestseller, seperti Bandung Menjelang Pagi (2024), 23:59 Kau yang Tak Pernah Pulang dan Aku yang Selalu Menunggu (2025), Parable (2021), Kudasai (2019), Seporsi Mie Ayam Sebelum Meninggal (2025), Merayakan Kehilangan (2016), Sisi Tergelap Surga (2023), dan masih banyak karya lainnya.

Sisi Tergerap Surga adalah novel reflektif yang menyoroti kehidupan sosial menengah ke bawah, menyoroti kehidupan traumatis masyarakat, menyoroti kehidupan pemulung, pengamen dan pekerja informal di balik gemerlapnya Jakarta. Novel ini berhasil menyita perhatianku akan keindahan, kemewahan dan kemegahan Ibu Kota. Ternyata menyimpan banyak luka dan dosa di dalamnya.

Novel ini dibuka dengan cerita tiga perempuan yang sama-sama menyesali pilihan hidup mereka, tetapi tak cukup berani untuk benar-benar melepaskan belenggu lingkungan sekitar. Rini, Yuyun, dan Resti—tiga sahabat yang pernah percaya bahwa hidup mereka akan berjalan mulus—pada akhirnya harus menerima bahwa harapan itu hanya menjadi angan yang perlahan menguap di udara. Yuyun memilih menikah dengan laki-laki yang sebenarnya tidak ia cintai. Keputusan itu bukan lahir dari keinginan, melainkan tekanan sosial yang begitu kuat. Di lingkungannya, perempuan yang belum menikah di atas usia 25 kerap dicap sebagai “tidak laku” atau “perawan tua”. Stigma itulah yang akhirnya memaksa Yuyun untuk tunduk pada keadaan.

“Gimana rasanya lo menikah sama orang yang nggak kamu cintai?”, “Gimana rasanya tidur sama orang yang nggak kamu cintai?” pertanyaan Rini membuat Yuyun gerah. “Tanya sama diri lo sendiri aja lah. Bukannya lo lebih berpengalaman kalau soal itu?” dialog ini berakhir dan berlanjut membahas Resti.

Pilihan serupa juga diambil oleh Resti. Padahal, kedua sahabatnya sudah meyakinkan bahwa ia berhak mendapatkan hidup yang lebih baik daripada menikah dengan laki-laki yang bahkan tidak memiliki pekerjaan tetap. Resti adalah perempuan berpendidikan tinggi, lulusan sarjana teknologi pangan. Ia pernah hidup berkecukupan—di mana membeli sesuatu semudah menggulir layar aplikasi. Namun kini, ironi hidup menghampirinya: jika dulu bingung ingin membeli apa, sekarang ia justru bingung harus membeli dengan apa. Berbeda dengan keduanya, Rini memegang prinsip bahwa pernikahan harus didasarkan pada pilihan yang tepat, bukan sekadar tuntutan sosial. Ia memilih mengabaikan pandangan orang-orang di sekitarnya, meski jalan hidup yang diambil tidak mudah. Rini menjadi seorang pekerja seks komersial—sebuah pilihan yang, di lingkungannya, justru dianggap hal yang lumrah.

Cerita berpindah pada kisah Julaeha, perempuan dari desa untuk mengadu nasib ke Jakarta. Dengan semangat yang menggebu saat menginjakkan kaki di Ibu Kota, ia dan temannya, Tomi, memiliki segudang cita-cita ingin menjadi seorang wisausaha, membuka salon, menjadi kuli bangunan dan beragam pekerjaan yang dapat mengubah nasib keduanya. Ternyata, memang benar. Pekerjaan itu berhasil mengubah nasibnya yang semula baik menjadi kurang baik. Cita-cita Juleha dan Tomi itu lantas seperti bangkai tikus di tengah jalan, sedikt demi sedikit terlindas oleh kendaraan hingga tak tersisa. Julaeha akhirnya menjadi seorang pelacur dan memiliki seorang anak “haram” yang tidak ia inginkan, sedangkan Tomi menjadi seorang preman terminal yang sangat ditakuti bahkan tubuhnya dipenuhi oleh tato-tato dan sudah memiliki istri bernama Dewi. Lebih tepatnya bukan istri, tetapi “teman berkencan” untuk melampiaskan amukan dan amarahnya setiap pulang ke rumah.

Cerita kemudian beralih pada kisah Nunung, Sobirin, dan Ujang. Sobirin, suami Nunung, dikenal sebagai penjual tahu jablay yang sederhana namun penuh kepedulian terhadap sesama. Ia pernah kehilangan anak semata wayangnya akibat penyakit DBD—sebuah kehilangan yang menyisakan luka mendalam. Selama ini, Sobirin selalu menjadi garda terdepan ketika warga kampung menghadapi masalah; ia hadir, membantu, bahkan menyelesaikan persoalan orang lain tanpa pamrih. Namun ironisnya, ketika musibah menimpa dirinya, tak satu pun dari mereka datang menolong. Harapan yang dulu ia gantungkan pada anaknya runtuh begitu saja. Kenyataan kembali menunjukkan sisi getirnya bahwa kebaikan tidak selalu berbalas kebaikan. Saat anaknya membutuhkan pengobatan, ia justru harus menghadapi kesendirian dan kekecewaan yang menyesakkan. 

Namun, seperti langit yang tak selamanya mendung, perlahan hadir secercah warna dalam hidup mereka. Kehadiran Ujang di rumah itu menjadi semacam pelangi yang tak mudah pudar. Ia membawa kehangatan di tengah dinginnya luka yang belum sepenuhnya sembuh, menjadi pengisi ruang kosong yang lama ditinggalkan. Ujang adalah anak dari seorang pelacur bernama Julaeha. Ia tumbuh dalam realitas yang rumit, dianggap sebagai anak kandung oleh Tomi, padahal sejatinya ia lahir dari peristiwa kelam: hasil pemerkosaan yang dialami Julaeha di masa lalu. Meski begitu, kehadiran Ujang justru menjadi titik terang kecil di tengah rangkaian kehidupan yang penuh luka dan ironi.

Luka lain juga dialami oleh Danang, seorang lelaki yang dikenal tampan, ramah, sopan, dan baik hati. Di mata banyak orang, ia adalah sosok idaman di kampungnya. Namun di balik senyum hangat yang selalu ia tampilkan, tersimpan beban hidup yang tak pernah benar-benar terlihat. Danang memikul tanggung jawab besar: membiayai pendidikan adiknya hingga lulus kuliah, sebuah perjuangan yang tentu membutuhkan biaya tidak sedikit. Demi itu, ia memilih jalan yang bagi sebagian orang dianggap aib, sesuatu yang sulit termaafkan oleh lingkungan tempat ia tinggal. 

Dalam diam, Danang menjalani kehidupan ganda. Ia menyamar dan menjajakan dirinya di pinggir jalan, melakukan apa pun yang bisa ia lakukan demi memenuhi kebutuhan hidup dan memastikan masa depan adiknya tetap terjaga. Pilihan itu bukan tanpa risiko. Ketika akhirnya rahasia tersebut terbongkar, ia nyaris diusir oleh warga yang selama ini mengenalnya sebagai sosok “baik-baik”. Kisah Danang seakan menegaskan satu hal: bahwa tidak semua perjuangan dapat dipahami dengan mudah oleh orang lain. Seperti yang pernah diucapkan Julaeha kepada Tomi saat pertengkaran mereka, “Jangan pernah menghakimi cara bertahan hidup seseorang.” Kalimat itu menjadi semacam gema yang merangkum pahitnya realitas yang dialami para tokoh dalam novel ini bahwa di balik setiap pilihan, selalu ada luka yang tak terlihat.

Novel Sisi Tergelap Surga berhasil menggali realitas kehidupan sosial dengan begitu dalam dan menyentuh. Namun, sebagaimana karya lainnya, di balik kelebihannya tentu terdapat beberapa kekurangan yang patut menjadi catatan. Salah satu hal yang cukup terasa adalah banyaknya karakter yang dihadirkan. Di satu sisi, hal ini membuat cerita terasa kaya dan beragam—bahkan pada awalnya pembaca dapat sangat menikmatinya. Namun di sisi lain, kompleksitas tersebut menjadi tantangan tersendiri. Perpindahan estafet antar tokoh terasa cukup rumit, sehingga pembaca harus terus mengingat alur dan latar belakang cerita sebelumnya agar tidak kehilangan benang merah. Selain itu, novel ini juga dipenuhi dengan referensi atau latar musik yang cukup banyak. Meskipun pada dasarnya masih relevan dengan suasana cerita, penyajiannya terasa berlebihan. Alih-alih memperkuat emosi, hal ini justru sedikit mengurangi kesan dramatis yang seharusnya bisa lebih terasa jika disajikan secara lebih selektif. []


***
Disampaikan pada Diskusi Buku #5 FLP Kota Bandung pada Ahad, 12 April 2026 di Taman Film Bandung.