Bandung, 12 April 2026 — Rumput sintetis di depan Library Taman Film Kota Bandung pagi itu menjadi tempat berkumpulnya para pegiat literasi. Anggota dan volunter FLP Bandung bersama masyarakat umum duduk melingkar, siap menyelami novel Sisi Tergelap Surga karya Brian Khrisna. Novel yang terbit pada 2023 ini menghadirkan potret getir kehidupan masyarakat menengah ke bawah di Jakarta, menyingkap luka yang sering tersembunyi di balik gemerlap kota.
Kegiatan bertajuk Diskusi Buku #5 FLP Bandung menghadirkan Usep Njen, Ketua Divisi Kaderisasi FLP Kota Bandung 2026, sebagai pemantik diskusi. Ia membuka dengan mengenalkan sosok Brian Khrisna, perjalanan menulisnya sejak 2010 di Tumblr, hingga menghasilkan karya-karya best seller. Usep menekankan bahwa Sisi Tergelap Surga dipilih karena kompleksitas ceritanya, relevansi dengan kehidupan masyarakat urban, serta keberanian mengangkat tema sosial yang jarang ditampilkan.
Diskusi berlangsung interaktif dengan Ahmad Maulana, Ketua Divisi Bisnis dan Eksternal FLP Bandung, yang bertindak sebagai moderator. Peserta diberi kesempatan untuk menanggapi. Salah satu peserta, Sukmawati, menyoroti adanya kompleksitas tokoh yang begitu banyak, sehingga di awal pembacaan terasa membingungkan untuk menjaga benang merah cerita. Sementara peserta lainnya, Hadi Abdullah, menambahkan bahwa meski tokoh berlimpah, tetap ada figur sentral yang menjadi penghubung, dan menurutnya Tomi adalah kunci dari keseluruhan cerita.
Kegiatan ini diikuti oleh sepuluh peserta dan berlangsung dari pukul 09.00 hingga 11.00 WIB. Diskusi di ruang publik seperti Taman Film memberi nuansa literasi yang dekat dengan masyarakat kota. Para peserta tidak hanya membicarakan alur dan tokoh, tetapi juga menyinggung bagaimana novel ini menampilkan wajah urban yang keras, penuh ironi, sekaligus sarat nilai moral.
Pesan penting yang muncul adalah bahwa apa yang digambarkan dalam Sisi Tergelap Surga tidak hanya representasi kehidupan masyarakat kota di Jakarta. Realitas serupa juga hadir di Kota Bandung. Brian Khrisna sendiri pernah menampilkan wajah kota Bandung dalam karyanya Bandung Menjelang Pagi, yang menunjukkan bahwa luka dan asa masyarakat urban bukan monopoli satu kota saja, tapi fenomena yang lebih luas.
Diskusi ditutup dengan kesan mendalam dari Sisi Tergelap Surga. Karya ini dapat dibaca sebagai bagian dari tradisi sastra sosial, yaitu sastra yang lahir dari realitas masyarakat, berfungsi sebagai cermin sosial, kritik, dan sarana membangun empati. Melalui Diskusi Buku ini, FLP Kota Bandung ingin menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan ruang literasi yang aktif, relevan, dan mampu menghubungkan karya sastra dengan denyut kehidupan urban di sekitar kita. []
0 Comments
Post a Comment