Suasana Diskusi Buku #9 The Book with No Name
pada Ahad (14/6) di Salman Reading Corner.

Bandung, 14 Juni 2026Forum Lingkar Pena (FLP) Kota Bandung kembali menggelar agenda rutin Diskusi Buku di Salman Reading Corner pada Ahad (14/6). Memasuki pertemuan kesembilan, buku yang dibahas kali ini adalah The Book with No Name karya Anonymous.

Diskusi dipantik oleh anggota muda FLP Kota Bandung, Aditya Firman Ihsan. Kegiatan yang dimulai pukul 13.00 WIB ini diikuti oleh delapan peserta, tidak hanya dari kalangan anggota FLP, tetapi juga masyarakat umum yang memiliki ketertarikan pada dunia literasi dan kepenulisan.

Berbeda dari diskusi buku pada umumnya, Adit membuka sesi dengan membacakan halaman-halaman awal novel sambil diiringi musik latar bernuansa horor dan thriller. Suasana Salman Reading Corner pun berubah menjadi lebih hening dan penuh rasa penasaran. Para peserta seolah diajak memasuki Santa Mondega, kota fiktif yang menjadi latar utama novel tersebut.

Adit memantik diskusi buku The Book with No Name

Dalam pemaparannya, Adit menyoroti keunikan utama buku ini, yaitu identitas penulisnya yang sengaja disembunyikan dan hanya menggunakan nama Anonymous. Menurutnya, keputusan untuk tidak mencantumkan nama asli penulis menghadirkan pertanyaan menarik bagi para penulis maupun calon penulis. 

Apakah kita tetap ingin menulis jika tidak ada nama yang dikenal, tidak ada pujian, dan tidak ada popularitas yang didapat? Begitu kurang lebih ujar Adit.

Baginya, buku ini dapat menjadi sarana refleksi untuk menguji kemurnian niat dalam menulis. Sebab, tidak sedikit orang yang menulis dengan harapan mendapatkan pengakuan atau apresiasi dari pembaca.

Adit berpendapat bahwa menulis seharusnya dilakukan karena dorongan untuk menulis itu sendiri.

"Menulis adalah untuk menulis itu sendiri," katanya.

Pandangan tersebut memantik diskusi yang hangat di antara peserta. Sebagai penulis dan calon penulis, mereka diajak kembali mempertanyakan tujuan menulis yang selama ini dijalani.

Dyah, salah satu peserta Diskusi Buku #9 menanggapi soal gaya tulisan buku

Selain membahas konsep anonimitas penulis, peserta juga mendiskusikan gaya penceritaan novel. Salah seorang peserta, Dyah, menilai narasi dalam teks asli berbahasa Inggris terkesan sederhana. Bahkan menyerupai tulisan remaja sekolah menengah atas.

Meski demikian, kesederhanaan gaya bahasa tersebut tidak mengurangi daya tarik cerita. Alur yang cepat, penuh kejutan, serta kehadiran karakter-karakter yang beragam membuat novel ini tetap menarik untuk diikuti hingga akhir.

Diskusi Buku FLP Kota Bandung tidak hanya menjadi ruang untuk membicarakan isi sebuah buku, tetapi juga wadah untuk bertukar gagasan, memperluas perspektif, dan merefleksikan proses kreatif sebagai penulis.

Melalui diskusi kali ini, peserta diajak menyelami misteri di balik The Book with No Name dan merenungkan kembali pertanyaan mendasar yang sering terlupakan: untuk apa kita menulis? []