Petikan ukulele mengalun pelan dari ruang tamu sebuah rumah di Kompleks De Marrakesh, Bandung pada Ahad, 24 Mei 2026. Delapan orang duduk melingkar. Secara bergantian mereka membacakan pantun, lalu mendiskusikan makna yang tersembunyi di balik setiap bait. Sesekali tawa pecah. Di lain waktu, suasana berubah menjadi tenang ketika pantun membawa mereka pada pengalaman dan perenungan mendalam.

Siang itu, Forum Lingkar Pena (FLP) Kota Bandung kembali menggelar Diskusi Buku rutin yang telah memasuki pertemuan ke-8. Kali ini, kegiatan berlangsung di kediaman penulis dan ketua pertama FLP Kota Bandung, M. Irfan Hidayatullah. Diskusi dimulai sejak pukul 13.30 WIB dan berakhir pada waktu Ashar.

Buku yang dibahas adalah Pantun Menulis (Diri), sebuah karya yang mengangkat proses kreatif menulis melalui medium pantun. Tidak seperti buku motivasi menulis pada umumnya, karya ini memilih bentuk yang ringkas dan puitis. Di dalamnya terdapat 99 pantun yang seolah dipilih sebagai isyarat keilahian sekaligus mengingatkan bahwa aktivitas menulis dapat menjadi jalan untuk mengenali diri dan mendekatkan diri pada makna yang lebih dalam.

Keunikan buku tersebut langsung terlihat sejak pertama kali peserta memegangnya. Sampul hardcover berwarna hitam-putih menampilkan siluet penulis yang mengenakan topi. Judul Pantun Menulis (Diri) pun tidak ditampilkan secara utuh pada satu sisi. Kata-kata dalam judul dibagi antara sampul depan dan belakang sehingga keduanya saling terhubung dan baru membentuk kesatuan ketika buku dilihat secara utuh. Desain itu memancing rasa ingin tahu pepmbaca sekaligus menjadi metafora bahwa proses menulis sering kali merupakan upaya menyambungkan bagian-bagian diri yang terpisah.

Selama diskusi berlangsung, peserta tidak hanya membahas isi buku. Mereka juga diajak menikmati ritme pantun melalui pembacaan bergantian yang diiringi petikan ukulele sederhana. Setiap bait kemudian menjadi pintu masuk untuk berbincang tentang proses kreatif, kebiasaan menulis, tantangan berkarya, hingga pengalaman personal yang melatarbelakangi lahirnya sebuah tulisan.

Format diskusi yang santai membuat suasana terasa akrab. Tidak ada jarak antara pembicara dan peserta. Semua orang memiliki kesempatan untuk membaca, menafsirkan, dan menghubungkan pantun dengan pengalaman hidup masing-masing. Dari sinilah percakapan berkembang menjadi refleksi bersama mengenai makna menulis sebagai sarana mengenal diri.

Bagi FLP Kota Bandung, kegiatan semacam ini merupakan bagian dari upaya merawat budaya literasi sekaligus memperkuat ikatan antarsesama penulis. Sementara bagi peserta yang hadir, Pantun Menulis (Diri) tampaknya berhasil menjalankan fungsi yang lebih dari sekadar bacaan. Buku itu menjadi teman dialog yang mengingatkan ihwal menulis sebagai upaya menyelami pengalaman hidup dan menemukan makna di dalamnya.

Menjelang Ashar, diskusi resmi berakhir. Namun obrolan tentang menulis masih terus bergulir. Seperti pantun-pantun yang mereka baca sore itu, percakapan mengalir ringan, tetapi meninggalkan kesan yang panjang. []