Ada perjalanan yang selesai ketika kaki kembali menginjak rumah. Ada pula perjalanan yang baru benar-benar dimulai ketika kisahnya dituliskan. Ahad pagi, 26 Juli 2026, di ruang baca Perpustakaan PUSDAI Jawa Barat, sembilan orang duduk melingkar di hamparan rumput hijau sintetis. Mereka datang dengan membawa seperangkat alat tulis dan rasa ingin tahu. Mereka tidak sedang merencanakan pendakian ke Himalaya atau menyusun itinerary ke Tibet. Mereka sedang menempuh perjalanan yang lain: menyusuri jejak seorang penulis yang mengubah pengalaman menjadi karya, lalu mencoba menemukan perjalanan mereka sendiri melalui tulisan.

Diskusi Buku #12 Forum Lingkar Pena (FLP) Kota Bandung dimulai pukul 10.00 WIB. Kegiatan rutin yang kali ini dipandu oleh Yanto Purwanto sebagai moderator mengangkat buku Alaya: Cerita dari Negeri Atap Dunia karya Daniel Mahendra. Buku setebal 413 halaman yang diterbitkan Epigraf pada September 2018 itu dipilih bukan tanpa alasan. Ahmad Maulana, Ketua Divisi Bisnis dan Eksternal FLP Kota Bandung sekaligus pemantik diskusi, mengisahkan bahwa buku tersebut merupakan rekomendasi seorang teman yang mengetahui kegemarannya melakukan perjalanan.

Awalnya Ahmad mengira Alaya hanya buku tentang backpacking. Namun ternyata setelah selesai membacanya, ia merasa buku ini lebih banyak berbicara tentang perjalanan batin daripada perjalanan geografis.


Selama hampir satu jam, Ahmad membawa peserta menyusuri perjalanan Daniel Mahendra secara kronologis. Berangkat dari Indonesia, singgah di Bangkok dan Chengdu, menempuh perjalanan kereta selama kurang lebih dua hari menuju Lhasa, melintasi Tibet, Nepal, hingga kaki Gunung Everest, lalu kembali pulang ke tanah air. Cara bertuturnya yang mengalir membuat peserta seolah ikut duduk di gerbong kereta menuju "Negeri Atap Dunia", menyaksikan hamparan dataran tinggi Tibet, merasakan tipisnya oksigen akibat Acute Mountain Sickness (AMS), hingga berhenti sejenak di Masjid Agung Lhasa, masjid tertinggi di dunia, tempat Daniel Mahendra menuliskan salah satu refleksi spiritual paling berkesan dalam bukunya.

Namun, sebagaimana disampaikan dalam diskusi, kekuatan Alaya tidak terletak pada banyaknya tempat yang dikunjungi. Justru sebaliknya, buku ini menunjukkan bahwa perjalanan hanya menjadi latar bagi pencarian yang lebih mendalam, yaitu pencarian makna hidup, rumah, dan diri sendiri.

Berangkat dari mimpi masa kecil setelah membaca Tintin di Tibet, Daniel Mahendra menuturkan kisahnya dengan gaya yang berada di antara memoar dan novel. Pengalaman nyata dipadukan dengan teknik bercerita yang hidup melalui dialog, konflik, dan pembangunan karakter. Karena itu, pembaca tidak sekadar diajak mengetahui ke mana penulis pergi. Lewat buku ini, pembaca juga akan memahami bagaimana perjalanan itu mengubah dirinya. Kehadiran surat-surat kecil yang ditujukan kepada putranya, Sekala, memberi lapisan emosional yang membuat buku ini terasa menyentuh sisi sanubari sekaligus personal.

Persoalan inilah yang kemudian memantik diskusi. Beberapa peserta mengaku penasaran dengan format buku yang disebut sebagai memoar perjalanan, tetapi dibaca seperti novel.


Ahmad menjelaskan bahwa pengalaman hidup tidak harus dipindahkan ke dalam tulisan secara mentah. Seorang penulis memilih adegan, menyusun konflik, membangun ritme cerita, lalu menghadirkan tokoh yang memungkinkan pembaca ikut merasakan pengalaman tersebut. Dengan kata lain, perjalanan hanyalah bahan baku.Sedangkan karya buku lahir dari cara penulis mengolah pengalaman menjadi narasi yang berkesan.

Pandangan itu sejalan dengan kesan banyak pembaca Alaya yang menilai buku ini bukan sekadar catatan wisata. Menurut mereka, novel ini merupakan refleksi tentang keberanian mengejar mimpi, memaknai kehilangan, dan menemukan "rumah" di dalam diri sendiri. Bahkan makna judul Alaya, yang dalam bahasa Sanskerta berarti "tempat tinggal", menjadi benang merah yang mengikat seluruh perjalanan Daniel Mahendra. Rumah, dalam buku ini, bukan semata bangunan yang dituju untuk pulang, tapi ruang batin tempat seseorang berdamai dengan dirinya.

Selepas diskusi, suasana berubah menjadi lebih personal. Tradisi yang telah menjadi ciri khas Diskusi Buku FLP Kota Bandung pada dua pertemuan terakhir kembali dilanjutkan, yaitu tantangan menulis.

Ahmad mengajak seluruh peserta menutup mata sejenak, mengingat satu perjalanan yang paling membekas dalam hidup mereka. Pengalaman yang masih menyisakan jejak di ingatan. Lalu selama sekitar lima belas menit, ruangan menjadi hening. Setiap peserta fokus pada proses mengingat dan menuliskan pengalamannya masing-masing. 

Sebagian peserta menulis di atas lembaran kertas dengan pulpen. Sebagian lainnya memilih mengetik di layar telepon genggam. Perlahan, perjalanan-perjalanan sederhana itu berubah menjadi beragam cerita. 

Ketika sesi berbagi dimulai, suasana kembali mencair. Cerita demi cerita mengalir, diselingi tawa, senyum, dan sesekali berseru riuh ketika seseorang membacakan pengalaman dengan untaian kata yang indah. Dari latihan sederhana itu, setidaknya peserta belajar untuk berani menuliskan cerita perjalanan dan memaknainya sebagai bagian dari pembelajaran hidup. 


Pelajaran itulah yang terasa paling membekas dari pertemuan kali ini. Alaya menunjukkan bahwa setiap perjalanan menyimpan cerita, tetapi tidak semua perjalanan otomatis menjadi karya. Dibutuhkan kepekaan, keberanian, dan ketekunan untuk mengolah pengalaman menjadi tulisan yang dapat hidup lebih lama daripada langkah kaki penulisnya sendiri.

Tepat menjelang pukul 12.00 WIB, beberapa menit sebelum azan Zuhur berkumandang, Diskusi Buku #12 resmi ditutup. Seluruh peserta kemudian berkumpul di tengah ruang perpustakaan untuk mengabadikan momen bersama. Sebuah foto mungkin hanya mampu menghentikan waktu selama sepersekian detik. Namun, seperti yang diajarkan Alaya, tulisan memungkinkan sebuah perjalanan terus hidup, bahkan setelah semua orang kembali pulang.

Dan mungkin, di situlah makna sebenarnya dari setiap perjalanan menulis: menemukan rumah, lalu mengajak orang lain ikut menemukannya melalui kata-kata. []