Dua narasumber dari FLP Bandung, Sukmawati dan Ahmad Maulana, berbincang
di program NGOBRAS Pro 1 RRI Bandung pada Ahad (02/08/2026).
 

Setiap orang sejatinya adalah sebuah buku berjalan. Di dalam kepala kita, tersimpan ribuan lembar memori tentang kehilangan, jatuh, bahagia, hingga kegagalan yang mendewasakan. Namun, mengapa dari miliaran manusia yang punya cerita, hanya segelintir yang berani menuangkannya ke dalam tulisan? 

Pertanyaan reflektif inilah yang menjadi topik dalam program NGOBRAS (Ngobrol Bareng Komunitas) di Pro 1 RRI Bandung, pada Ahad malam, 2 Agustus 2026. Mengudara tepat pukul 20.10 hingga 21.00 WIB, obrolan santai tapi sarat makna ini dipandu dengan apik oleh penyiar RRI, Rana Winata.

Hadir sebagai narasumber dari Forum Lingkar Pena (FLP) Kota Bandung adalah Sukmawati (Ketua FLP Bandung periode 2024–2026) dan Ahmad Maulana (Ketua Divisi Bisnis dan Eksternal). Selama hampir satu jam, mereka mengupas esensi dari tema yang diangkat malam itu: "Semua Orang Punya Cerita, Tapi Tidak Semua Orang Berani Menuliskannya."

Sesi awal obrolan dibuka oleh Rana Winata dengan ajakan berkenalan, yang kemudian berlanjut pada rasa penasaran tentang asal-usul nama komunitas ini. Sukmawati kemudian mengurai kembali lembar sejarah awal mula terbentuknya Forum Lingkar Pena.

Gagasan besar ini dulunya diinisiasi oleh para aktivis literasi dan mahasiswa, di antaranya nama-nama besar yang kini menjadi tokoh nasional seperti Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, Maimon Herawati, hingga penulis asal Bandung, M. Irfan Hidayatullah. Merekalah para pionir yang meletakkan batu pertama fondasi FLP.

Ada satu fakta menarik yang dibagikan Sukma malam itu mengenai kuantitas anggota. Ketika pertama kali terbentuk di akhir tahun 90-an, jumlah anggota FLP mungkin hanya berkisar belasan atau puluhan orang. Namun, konsistensi gerakan dakwah literasi ini membuahkan hasil manis. Seiring berjalannya waktu, FLP tumbuh subur, mengepakkan sayap kepengurusannya hingga bercabang di setiap kota di Indonesia, bahkan merambah ke belahan dunia lain dengan total anggota mencapai ribuan orang.

Dua Generasi, Dua Cerita Berjumpa di FLP

Obrolan semakin hangat ketika Rana mengulik latar belakang dan titik mula kedua narasumber bergabung dengan FLP. Rupanya, Sukmawati dan Ahmad Maulana berangkat dari era yang berbeda namun dipertemukan oleh kesamaan minat: menulis.

Ahmad Maulana bergabung pada 2021, tepat saat dunia sedang diterjang gelombang pandemi Covid-19. Di tengah keterbatasan ruang gerak kala itu, Ahmad memilih produktif dengan mendaftarkan diri lewat program Kuliah Kepenulisan (KK) yang digelar kembali secara luring oleh FLP Bandung, setelah sebelumnya vakum beberapa tahun.

Adapun Sukmawati memiliki ikatan yang lebih panjang karena sudah bergabung sejak akhir tahun 2015. Kisahnya cukup unik. Saat itu, Sukma adalah mahasiswa tingkat akhir di Universitas Padjadjaran (UNPAD) Jatinangor yang sedang jenuh menghadapi draf skripsi. Berawal dari ajakan seorang teman yang sudah lebih dulu bergabung, Sukma akhirnya nekat menghadiri sesi mentoring mingguan FLP Bandung yang saat itu digelar di Koridor Timur Masjid Salman ITB. Langkah berani itu menuntunnya mengikuti jalur kaderisasi resmi melalui Kuliah Kepenulisan (KK) angkatan IV.

Bagi keduanya, FLP bukan sekadar tempat singgah. Ada harapan besar yang mereka rawat di dalam organisasi kepenulisan ini.

Bagi Sukma, FLP Bandung adalah salah satu sarana untuk terus tumbuh, berkembang, dan memperdalam ilmu kepenulisan. Lebih dari itu, ia bersyukur bisa menemukan lingkungan baru yang suportif untuk berjejaring secara luas.

Sementara dari kacamata eksternal, Ahmad Maulana menaruh harapan agar ke depannya FLP Bandung bisa melompat lebih jauh untuk memperluas jejaring kolaborasi. Bukan hanya dengan sesama komunitas literasi, melainkan juga berkolaborasi lintas bidang guna menghidupkan ekosistem kreatif di Kota Kembang.

Menemukan Keberanian untuk Menulis

Meskipun dinamika obrolan malam itu bergulir sangat seru dan sesekali melebar ke berbagai topik, esensi utama dari tema malam itu tetap menemukan benang merahnya.

Pada akhirnya, poin terbesar dari talkshow malam itu bermuara pada satu kata, yaitu keberanian.

Diperlukan keberanian besar untuk membuka diri dan mengabadikan setiap jengkal pengalaman hidup kita ke dalam barisan kalimat. Jika kamu merasa belum memiliki keberanian itu sendirian, maka melangkah masuk ke dalam sebuah komunitas adalah jalannya.

Di komunitas menulis seperti FLP Bandung, ketakutan-ketakutan itu akan divalidasi dan ditemani. Lewat program kelas kepenulisan yang terstruktur, proses belajar menulis terasa jauh lebih mudah. Ditambah lagi, lingkungan anggota yang sangat beragam akan memperkaya perspektif kita dalam memandang sebuah cerita, baik itu dalam bentuk fiksi yang menyentuh hati, maupun nonfiksi yang sarat akan hikmah kehidupan.

Jadi, cerita apa yang siap kamu tuliskan hari ini? FLP Bandung selalu membuka pintunya untukmu belajar bersama. [] 

Rana Winata (RRI), Sukmawati dan Ahmad Maulana (FLP Bandung)
berfoto bersama di studio Pro 1 RRI usai siaran program NGOBRAS.