Pada Ahad malam, 13 September 2026, Forum Lingkar Pena (FLP) Kota Bandung berkolaborasi dengan Ikatan Alumni Santri Siap Guna (SSG) Daarut Tauhiid, menggelar sebuah webinar bertajuk "BAKU Tidak Sekadar Tahu". Ruang Zoom malam itu berubah menjadi madrasah refleksi bagi sekira 40 peserta yang terdiri dari para santri DT, anggota FLP, dan masyarakat umum. Acara yang dipandu hangat oleh MC Rifa Rahmawati ini dibuka tepat pukul 19.50 WIB. Nuansa kepesantrenan yang disiplin tapi inklusif langsung terasa sejak menit pertama acara. 

Hadir memberikan sambutan, Ketua IKA SSG Daarut Tauhiid, Gun Gun Saptari, menitipkan sebuah pesan mendalam. Beliau menegaskan bahwa kolaborasi ini adalah ikhtiar nyata para kader untuk menghidupkan kembali ruh literasi di tengat umat. Bagi Gun Gun, kemajuan suatu bangsa dapat diukur dengan jernih dari budaya literasinya dan menulis adalah salah satu sarananya. 

Memasuki sesi utama gelar wicara (talkshow), kendali diskusi dialihkan kepada moderator, Teh Deri Rizki Anggarani, alumnus SSG Daarut Tauhiid yang kini berprofesi sebagai Self Development Traniner dan berdomisili di Yogyakarta. Secara estafet, tiga narasumber berbagi layar, memaparkan gagasan mereka secara tajam dan relevan dengan bidang masing-masing.

Menanam Fondasi Integritas untuk Menghadapi Tantangan Zaman 

Sebagai pemateri pertama, Kang Deni Firmansyah membuka wawasan peserta dengan membedah kembali rumus Karakter BAKU (Baik dan Kuat). Karakter ini bukan sekadar jargon yang biasa digaungkan pada pelatihan SSG. Karakter BAKU merupakan fondasi mutlak yang wajib merasuk ke dalam nadi setiap santri Daarut Tauhiid dalam menghadapi tantangan zaman. 

Estafet materi kemudian dilanjutkan oleh Kang Sandri Justiana, seorang alumnus SSG angkatan 6 yang kini mendedikasikan dirinya di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Republik Indonesia sekaligus seorang pemelajar literasi yang tekun. Dengan gaya bertutur reflektif, Kang Sandri mengajak peserta membedah "kerikil-kerikil" korupsi kecil di keseharian kita yang sering kali dinormalisasi. 

Di ranah profesional, misalnya, kita kerap melihat adanya celah "titipan amplop" di luar hak resmi pekerja dan ini menguji keikhlasan dalam bekerja. Ada pula "jalur cepat" saat kita berhadapan dengan pelayanan publik. Tawaran cara cepat dari oknum petugas memang dapat memangkas waktu anrean yang panjang, tapi ini bisa jadi ujian bagi hati nurani untuk tetap patuh pada regulasi. Begitu pun dengan contoh lainnya, yaitu fenomena pembuatan Surat Izin Mengemudi (SIM) lewat jalur khusus tanpa tes berkendara. Bagi Sandri, pertahanan terbaik dari semua celah tersebut berada pada ketangguhan karakter BAKU. Kita harus berani mengambil keputusan untuk jujur, meskipun jalan jujur itu sering kali harus mengantre. Demikian kurang lebih ungkapnya. 

Meruntuhkan Jarak Antara Kepala dan Tindakan

Tangkapan layar saat webinar "BAKU Tidak Sekadar Tahu" pada Ahad (13/09/2026) malam via Zoom Workspace.
(Dok. Dey - Anggota FLP Kota Bandung)

Menyambung kegelisahan tentang integritas, Teh Sukmawati selaku Ketua FLP Kota Bandung hadir sebagai pembicara ketiga dengan membawakan topik: "Mengubah Kepedulian Menjadi Tulisan dan Gerakan". Sukmawati menyoroti sebuah paradoks besar yang sedang menjangkiti bangsa ini, yakni adanya jarak yang teramat lebar antara apa yang kita ketahui di kepala, dengan apa yang sanggup kita lakukan di lapangan. Menurutnya, Indonesia sama sekali tidak kekurangan orang pintar. Namun, krisis terbesar kita hari ini adalah kelangkaan orang yang mau bergerak dari apa yang ia ketahui. 

Kita tahu membaca itu penting, tapi distraksi gawai begitu mudah membuat kita menutup buku lalu melupakannya. Kita tahu memilah sampah itu dapat menekan kerusakan lingkungan, tapi ego kita masih sering mencampurkan antara sampah basah dan kering. Kita pun tahu mesti tertib mengantrem tapi saat ada kesempatan di antrean atau jalan umum, diri kita tetap menyerobot rute orang lain. Di sinilah Sukmawati memosisikan gerakan literasi. Baginya, literasi lewat menulis dan membaca merupakan jembatan nyata untuk memaksa isi kepala yang merasa "serba tahu" itu turun menjadi tindakan-tindakan baik yang berdampak. 

Khidmat Pena: Dari Obrolan Menjadi Tulisan

Webinar ini tidak membiarkan pesertanya pulang dengan kepala penuh teori semata. Menjelang akhir acara, panitia melemparkan tantangan menulis spontan selama 5 menit kepada para peserta. Ruang kolom chat Zoom seketika banjir oleh tulisan-tulisan reflektif dari para peserta yang apa adanya menceritakan pengalaman, kegelisahan, dan janji aksi mereka setelah menyimak paparan materi. 

Malam itu pun ditutup dengan sebuah kabar gembira, pengumuman resmi Lomba Menulis Opini dan Esai Reflektif yang dikhususkan bagi para Santri Siap Guna Daarut Tauhiid. Adapun FLP akan ikut andil sebagai kontributor dan penulis tamu untuk mengawal lahirnya karya-karya terbaik umat. 

Menjelang pukul 22.00 WIB, sesi foto bersama menjadi penanda berakhirnya ruang jumpa virtual ini. Layar Zoom mungkin telah ditutup, namun goresan pena sebagai khidmat kepada masyarakat dari kolaborasi SSG Daarut Tauhid dan FLP baru saja dimulai. Sebab sejatinya, menjadi BAKU adalah tentang bergerak, alih-alih sekadar tahu. []