Suasana Diskusi Buku #11 FLP Kota Bandung di Perpustakaan
Bandung Creative Hub pada Ahad (12/07) pagi.

Mungkin tidak banyak orang yang rela menghabiskan Minggu paginya untuk membicarakan kata. Namun, bagi sembilan orang yang berkumpul di Perpustakaan Bandung Creative Hub, Ahad, 12 Juli 2026, kata bukan lagi sekadar rangkaian huruf. Kata adalah awal dari gagasan atau cerita, jembatan menuju pembaca, sekaligus bekal untuk menjadi penulis yang lebih baik.

Kesadaran itulah yang melandasi Diskusi Buku #11 Forum Lingkar Pena (FLP) Kota Bandung. Sejak pukul 10.00 WIB, peserta diajak menyelami Memikirkan Kata: Panduan Menulis untuk Semua, buku setebal lebih dari enam ratus halaman yang disunting oleh Sabiq Carebesth dan kawan-kawan.

Acara dibuka oleh Ahmad Maulana, Ketua Divisi Bisnis dan Eksternal FLP Kota Bandung, yang bertindak sebagai pembawa acara sekaligus moderator. Alih-alih langsung memasuki materi, peserta terlebih dahulu diajak saling memperkenalkan diri. Suasana yang semula formal perlahan mencair. Dari sesi singkat itu, tampak bahwa mereka datang dari latar belakang yang beragam, tetapi dipertemukan oleh satu minat yang sama, yaitu dunia kepenulisan. 

Setelah sesi perkenalan, moderator mempersilakan Sukmawati, Ketua FLP Kota Bandung periode 2024-2026, untuk memantik diskusi. 

Sukma membuka paparannya dengan sebuah cerita sederhana tentang bagaimana buku itu sampai ke tangannya. Memikirkan Kata, tuturnya, merupakan hadiah yang ia terima saat mengikuti sebuah workshop menulis pada penghujung 2025. Kesan pertama terhadap buku itu begitu kuat. Bukan hanya karena tampilannya yang menarik, tetapi juga karena isinya terasa relevan dengan kebutuhan para penulis, khususnya  di lingkungan Forum Lingkar Pena.

Buku itu kemudian "mengendap" cukup lama di rak baca pribadinya. Hingga akhirnya muncul gagasan untuk membagikan pengalaman membaca tersebut melalui agenda Diskusi Buku FLP Kota Bandung. "Sayang kalau buku sebagus ini hanya jadi konsumsi pribadi," ujar Sukma. 

Sukma kemudian memperkenalkan identitas buku yang diterbitkan oleh Galeri Buku Jakarta tersebut. Edisi yang dibahas merupakan cetakan kedua atau edisi revisi yang terbit pada April 2025. Dengan ketebalan mencapai 619 halaman, buku ini hadir dalam format penuh warna (full color), diperkaya fotografi artistik, tata letak yang dinamnis, tipografi yang beragam, serta banyak kutipan yang menggugah untuk direnungkan. 

"Membaca buku ini terasa seperti menikmati sebuah karya seni," kata Sukma.

Menurutnya, hubungan antara teks, visual, dan tata letak membuat pengalaman membaca menjadi lebih berlimpah daripada sekadar menyerap informasi di dalamnya. Namun, daya tarik buku ini tidak berhenti pada tampilannya. Di dalam buku Memikirkan Kata terdapat sepuluh bab yang mengulas dunia kepenulisan dari berbagai sudut pandang. Pembaca akan menemukan esai-esai penulis dunia yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, pandangan editor mengenai proses kreatif, teknik dan strategi menulis, pembahasan tentang cara kerja ide, kisah perjuangan para penulis, wawancara dengan tokoh-tokoh sastra dunia, hingga glosarium dan daftar pustaka yang dapat menjadi pintu masuk bagi pembaca yang ingin memperluas referensi. 

Bagi Sukma, Memikirkan Kata meninggalkan dua kesan utama. Pertama, buku ini menghadirkan pengalaman membaca layaknya menikmati karya seni yang memadukan kata dan visual secara harmonis. Kedua, buku ini terasa seperti sebuah "buku resep" bagi para penulis. Tidak perlu dibaca secara berurutan dari halaman pertama hingga terakhir. Pembaca justru dapat membuka bab mana pun sesuai kebutuhan yang sedang dihadapi. 

"Kalau sedang belajar mengirim artikel ke media massa, langsung buka bagian yang membahas itu. Kalau sedang mencari inspirasi menulis esai, pilih bab yang berisi kumpulan esai atau kisah para penulis," jelasnya.

Dengan cara begitu, buku ini lebih menyerupai teman perjalanan yang dapat dirujuk sewaktu-waktu daripada buku yang harus ditamatkan dalam sekali baca. Di balik beragam teknik dan tips yang disajikan, Sukma melihat ada pesan yang jauh lebih penting. Buku ini tidak semata-mata mengajarkan bagaimana menulis, tetapi mengajak pembaca kembali mempertanyakan mengapa menulis. 

Melalui berbagai esai, wawancara, dan pengalaman para penulis, pembaca diajak memikirkan hakikat menulis, tujuan yang ingin dicapai, serta bekal yang perlu dipersiapkan dalam perjalanan sebagai penulis. Menulis diposisikan bukan sebagai keterampilan yang diperoleh secara instan, melainkan sebagai proses panjang yang menuntut latihan, kesabaran, dan ketekunan. 

Meski demikian, buku ini tidak luput dari sejumlah catatan kritis. Menurut pemantik diskusi, beberapa halaman memiliki perpaduan warna yang kurang kontras sehingga mengurangi kenyamanan dalam membaca. Ada pula beberapa penyematan foto yang tampaknya tidak selaras dengan teks pendampingnya. Kesalahan ketik pun masih dapat ditemukan di sejumlah halaman.

Selain itu, referensi yang digunakan dalam buku ini juga cenderung didominasi oleh penulis-penulis Barat. Menariknya, tidak semua tokoh yang dijadikan contoh berasal dari disiplin sastra atau linguistik. Sebagian justru datang dari bidang lain, seperti hukum, tetapi mereka tetap mampu menunjukkan konsistensi dalam berkarya melalui tulisan. 

Diskusi Buku kesebelas berlangsung dinamis. Sejumlah peserta mengajukan pertanyaan, berbagi pengalaman menulis, hingga mendiskusikan tantangan membangun kebiasaan menulis di tengah kesibukan sehari-hari. 

Sebagai penutup, peserta diajak mengikuti mini workshop menulis selama sekitar dua puluh menit. Sesi ini menjadi ruang untuk mempraktikkan gagasan yang baru saja didiskusikan, yaitu berhenti sejenak, memikirkan kata, lalu mengolahnya menjadi tulisan. Setelah menulis, beberapa peserta membacakan hasilnya dan mendapat tanggapan serta apresiasi dari peserta lain. Acara ditutup dengan sesi foto bersama sebagai penanda berakhirnya Diskusi Buku #11 FLP Kota Bandung. []