Peristiwa itu menjadi fenomena dan menggemparkan sepanjang sejarah Indonesia. “212” namanya. Aksi damai yang dilakukan umat Islam Indonesia dengan tujuan membela agama atas dasar cinta. Ya, itulah yang ingin disampaikan dalam film “212: The Power of Love”.

Cerita kecil dari sebuah peristiwa yang besar bahkan tak luput dari perhatian. Itu yang secara cerdas ditilik oleh penulis skenario. Sering kali, perkara akbar bisa diejawantahkan rahasianya oleh serpihan-serpihan kecil yang menjadi bagian di dalamnya.

Katakanlah soal Rahmat (Fauzi Baadilla), jurnalis berbakat lulusan terbaik Harvard University yang harus meninggalkan pekerjaannya di Jakarta karena ibunya di Ciamis meninggal dunia. Ditemani Adhin (Adhin Abdul Hakim), seorang fotografer yang tetap sejati menemani Rahmat walau banyak perkara yang tak pernah akur secara prinsip di antara mereka. Bahkan di mata Adhin, Rahmat adalah jurnalis liberal dan selalu memusuhi Islam dalam tulisan-tulisannya. Sepengetahuan Adhin pula, Rahmat sudah tak punya keluarga dan sebatang kara, bahkan sejauh ini, hanya ia lah yang rela menemaninya.


Tapi di Ciamis, pandangan Adhin berubah. Bahkan ia semakin yakin atas apa yang diupayakannya terhadap Rahmat. Semasa di Jakarta, ia seringkali menasehati Rahmat agar berhenti menyinyiri Islam sebab ia pula beragama Islam. Bukankah Rahmat nama yang agung dalam Islam? Tak hanya sampai di situ, Adhin pula melihat, Rahmat tak lagi sebatang kara. Temannya bukan hanya dirinya. Tapi ada Abah Zainal (Humaidi Abas), ayahnya yang seorang kiai dan Yasna (Meida Syafira), teman semasa kecilnya dan Bibi Nurul (Asma Nadia). Namun rupanya Rahmat memang lebih memilih menjadi sebatang kara sebab kepahaman yang berbeda tentang Islam. Apalagi telah lama ia tahu di Jakarta akan ada sekumpulan umat Islam dari berbagai daerah. Membawa ayat-ayat dan panji-panji simbolik, tuntutan massal, pekik takbir dan dengan tangan mengepal lalu berujung pada radikalisme: pengrusakan dan makar!

Awalnya Rahmat akan pulang beberapa hari sebelum Monas penuh dengan lautan manusia. Tapi alangkah terkejutnya ia ketika tahu ayahnya justru menjadi tokoh penggerak long march ratusan santri dari Ciamis. Sedegil-degilnya anak, tak lantas melupakan siapa bapaknya. Demikianlah Rahmat. Ia kemudian membujuk dengan banyak cara agar sang ayah tidak ikut berjalan kaki, kalaupun mau, ia bersedia mengantarkannya dengan mobil. Tapi Abah tetap bergeming. Ia berkilah, sebaik-baik pemimpin adalah yang membersamai orang-orang yang dipimpinnya.

Rahmat jelas kesal, tapi rasa tak tega masih menjadi bagian dari relung hatinya. Rahmat, lelaki liberal itu, kemudian menjadi bagian dari ratusan umat Islam yang berjalan kaki dari Ciamis menuju Jakarta, ditemani Adhin, fotografer konyol yang selalu gagal memahamkan Rahmat. Dan di situlah awal mula cerita menemukan titik serunya. Terbangunnya tangga-tangga menuju puncak konflik sekaligus penjabar berjuta pertanyaan orang di seluruh dunia: kenapa 212 bisa berjalan damai dan aman?




Film ini memiliki banyak kekuatan yang mendukungnya. Pertama, jelas, umat Islam yang menjadi bagian dari peristiwa itu, kedua, naskah yang bagus, ketiga, peristiwa yang menjadi penanda sejarah, keempat, banyak sekali artis yang mendukung, dan kelima, umat Islam secara global.

Seharusnya kelima hal di atas bisa dimanfaatkan maksimal, bukan hanya sebagai massa pengukur kuantitas penonton, tapi lebih dari itu. Kelima hal di atas mestinya menjadi tolak ukur sekaligus penguat, bahwa film “212: The Power of Love” adalah film positif, berkualitas bagus dan menjadi penanda sejarah peristiwa penting di negeri ini. Sehingga orang Islam merasakan betapa menggetarkannya peristiwa itu, betapa asyiknya menikmati film Islami penggugah hati yang tanpa menggurui, betapa mereka akan penasaran, di manakah peran mereka dalam film tersebut. Sehingga yang tahu akan semakin kuat dan yang tak tahu akan terbuka matanya. Sebagaimana ucapan Yasna pada sekelompok orang Islam yang ingin mengeroyok Rahmat dalam film tersebut, bahwa tugas kita adalah memberikan pemahaman kepada mereka yang tidak tahu. Sebab pandangan buruk terhadap Islam lebih kepada ketidaktahuan ketimbang kebencian.



Memang membuat film tak semudah membalikan telapak tangan, tapi tak pula sesulit membalikkan gunung. Film adalah bentuk lain dari sebuah karya seni, seperti halnya novel. Bisa saja film lebih baik dari novel sebagai sumber cerita, begitupun sebaliknya. Hanya saja, pada kasus ini, tak mudah bagi saya untuk berkata bahwa sebuah film ini bagus atau tidak. Yang jelas, muatan kebaikan sangat banyak dan padat.

Sayangnya, sebuah film yang baik atau orang kategorikan sebagai film positif tak lantas bisa dikatakan bagus dalam kategorisasi film secara keseluruhan. Singkatnya, film positif tak tentu bagus, dan film bagus tak tentu positif. Tapi ada pula film positif yang berkualitas bagus. Idealnya begitu.

Film “212: The Power of Love” saya kira, bisa dikategorikan sebagai film positif islami. Dimulai dari muatan ide, pembahasaan dalam percakapan, pemilihan pemeran—sampai pada peran itu sendiri. Film ini menawarkan banyak hal mengenai latar belakang bergeraknya umat Islam dari penjuru negeri pergi ke Jakarta baik dengan kendaraan maupun dengan berjalan kaki. Meskipun cerita yang dipilih adalah sepenggal kecil saja. Tapi sekali lagi, ini menunjukan kecerdasan seorang penulis!

Hanya sayang, ibarat naskah, film “212: The Power of Love” perlu editor yang andal, bahkan perlu waktu yang panjang untuk menuju kelayakan. Saya tak bilang film ini buruk. Justru saya memandang, film ini punya prospek yang sangat bagus, dengan catatan, bila digarap oleh “editor” yang andal dan dengan waktu yang pas.

Kita awali dengan pemeran Rahmat. Fauzi Baadila, sang aktor memang tak bisa dikatakan sebagai pendatang baru, perannya sudah tak bisa diragukan, tapi saya justru tak menemukan itu dalam film ini. Peran Rahmat seolah bukan dirinya. Dialog yang tanggung sering kali mengganggu. Sebagai seorang jurnalis liberal yang skeptis terhadap Islam dan lulusan Harvard, aksen ‘bule’ berkali-kali mau ditampilkan oleh Fauzi, tapi malah tanggung dan terkesan kaku. Ini berulang-ulang sampai akhir, lho! Walhasil, konflik batin yang bergumul dalam dada Rahmat tak sampai pada pemirsa.

Masih beruntung ada Adhin. Andai dalam sepak bola, peran inilah “Man of The Match”-nya. Penampilan rocker yang konon radikalis romantis ini justru memiliki jiwa lebih islami dibanding Rahmat. Sikapnya yang blak-blakan tanpa ada tedeng aling-aling ketika menyampaikan isi hati dan kebenaran menimbulkan kesan lucu dan justru menjadi penolong bagi kekakuan Rahmat. Si Adhin diperankan dengan apik kali ini.

Abah, Yasna, Bi nurul dan Abrar (Hamas Syahid) sebetulnya bisa menjadi tokoh sentral yang menjadi bagian penting perjalanan Rahmat dalam proses pencarian petunjuk. Tapi perdebatan dan transfer pemahaman tak banyak diceritakan di sini. Bahkan Abah Zainal yang notabene seorang ulama pun tak menampakan kebijaksanaannya sebagai pemuka agama, apalagi kepada anaknya. Beberapa kali terlibat pembicaraan, tapi seperti ada yang kurang. Padahal itu yang saya tunggu-tunggu, yakni ketika seorang ayah menerangkan arti sebuah perjuangan, misalnya, kepada anak yang telah lama menghilang dan bahkan jauh dari Islam. Oh ya, soal dialek bahasa Sunda. Antara bahasa Sunda yang ada di Ciamis dan di tempat-tempat lainnya memiliki perbedaan yang mencolok. Sedangkan saya dengar, bahasa Sunda yang digunakan oleh Abah, Yasna dan Bi Nurul pun terdengar seperti bahasa Sunda yang diperagakan oleh orang Bandung, bukan Ciamis.

Kemudian soal teknis, ini yang terakhir. Saya tak banyak menemukan sesuatu yang istimewa di sini. Katakanlah soal latar hijau atau yang akrab disebut “green screne”, entah apa motif sutradara memilih teknik itu dalam menggarap film ini. Beberapa kali menyebabkan mata saya “sakit”. Ketika menampakkan sekumpulan orang yang sangat banyak yang telah sampai monas, sampai kepada pembacaan puisi oleh Oki Setiana Dewi. Saya kira malah mengganggu. Memang sulit mengumpulkan orang sebanyak waktu itu, atau setidaknya yang bisa serupa itu, tapi itu bisa diakali. Setakat ini, saya tak mendapatkan fill di sana.

Lalu tentang gambar editan, inipun tak kalah mengganggu. Pertama, foto Rahmat yang mengenakan toga bersama kawan-kawannya yang semuanya bule. Tampak sekali bagian kepalanya adalah editan. Lalu gelas air mineral yang diganti dengan animasi bertuliskan “fresh”. Padahal dengan menempel stiker tanpa merk pun lebih enak dipandang, saya kira.

Kemudian, film ini, sekali lagi, semestinya menjadi penanda sejarah, betapa umat Islam bisa bersatu dalam membela agamanya. Betapa Indonesia memiliki kekuatan yang tak bisa ditunggangi oleh apapun, baik politik maupun perkara duniawi lainnya, yang bisa dikerahkan suka rela. Dan betapa, umat Islam memiliki toleransi yang jauh lebih besar tenimbang yang lain yang merasa “paling Indonesia”. Tapi, itu tadi, ibarat naskah, film “212: The Power of Love” menyisakan banyak PR untuk diedit, diperbaiki dan disempurnakan. Andai “212” seperti ini jadinya, maka kelak, jika ada, saya sangat berharap “212 sesion II” bisa lebih baik dan lebih terasa suasananya. Sebab banyak pula yang tak sempat ke Monas kala itu, tapi ingin juga merasakan, bagaimana gemilangnya fenomena itu. Walau lewat bioskop, meskipun melalui tontonan.

Oleh Haris Abdullah