Dokumentasi Tim Roompi Buku/Salman Reading Corner

Sore itu, kayu-kayu tua di perpustakaan Salman Reading Corner seolah ikut menyimpan cerita. Ruang sederhana di lantai satu bangunan lawas, Gedung Kayu Masjid Salman ITB itu dipenuhi aroma buku, tatapan penuh rasa ingin tahu, dan percakapan yang saling bertautan satu sama lain. Di sana, dua belas orang duduk melingkar untuk menjaga api literasi. Mereka datang membawa buku, membawa pengalaman, membawa diri, dan pulang dengan membawa resonansi kata-kata. 

Roompi Buku edisi kali ini terasa istimewa. Salman Reading Corner berkolaborasi dengan Forum Lingkar Pena (FLP) Kota Bandung, menghadirkan tema "Lingkar Pena Bercerita". Tema ini dipilih bukan tanpa alasan. Pertama, karena berdekatan dengan momentum hari lahir FLP, tepatnya sehari setelah acara Roompi Buku pada 21 Februari 2026, FLP genap berusia 29 tahun. Usia yang menandai perjalanan organisasi penulis yang berdiri sejak 1997. Kedua, karena pengurus FLP Kota Bandung ingin menguji resonansi karya-karya penulis FLP hari ini: apakah novel, puisi, esai, kumpulan cerita pendek yang lahir dari FLP masih relevan bagi pembaca muda urban?

Nama-nama besar seperti Asma Nadia, Helvy Tiana Rosa, Habiburrahman El-Shirazy, hingga M. Irfan Hidayatullah disebut kembali pada kegiatan di sore itu. Mereka adalah bukti bahwa FLP telah melahirkan penulis lintas genre, dari novel populer hingga esai reflektif. Namun, yang lebih penting dari itu semua adalah bagaimana karya-karya mereka dibaca, dipahami, dan diapresiasi oleh masyarakat hari ini.

Membaca dalam Hening

Dokumentasi Tim Roompi Buku/Salman Reading Corner

Acara Roompi Buku dimulai tepat pukul 16.00 WIB. Pemandunya dari Salman Reading Corner, seorang Duta Literasi, yang juga tergabung dalam komunitas Kawan Pustaka Salman. Usai dibuka dengan dua-tiga kalimat, pemandu acara mengarahkan peserta untuk melakukan silent reading selama 15 menit. Suasana perpustakaan pun seketika menjadi hening, hanya terdengar suara orang berbisik dari meja pustakawan dan halaman (kertas) yang dibalik. 

Setelah itu, satu per satu peserta berbagi hasil bacaannya. Judul-judul yang muncul pun beragam: Jilbab Traveler karya Asma Nadia, Sebuah Dunia yang Bukan Lagi Milik Kita karya Batara Al-Isra, Celoteh Jiwa karya @ahlansukma, hingga kumpulan cerpen Wajah-wajah Senja karya ketua pertama FLP Kota Bandung, M. Irfan Hidayatullah. Setiap cerita yang dibacakan menjadi pintu masuk ke dunia lain, dunia yang mempertemukan pengalaman personal dengan imajinasi kolektif. 

Berbagi Inspirasi


Dokumentasi Tim Roompi Buku/Salman Reading Corner

Roompi Kali ini menghadirkan sesi baru, yaitu Sharing Insight of The Day. Pada sesi ini, peserta diajak untuk bercerita tentang apapun, tidak hanya berbicara soal buku, tapi juga tentang pengalaman hidup sehari-hari. Ada yang berbagi tentang pemaknaan syukur dan tingkatannya, ada yang kembali memaknai kehilangan dan proses melepaskan demi petumbuhan diri, ada pula yang menyinggung meme lucu terkait mentalitas orang Indonesia yang "menguji" ujian itu sendiri. 

Salah satu peserta bahkan menceritakan pengalamannya saat bertandang ke Turki sebagai volunter di satu lembaga dan bertemu dengan pengungsi Gaza. Kisahnya membuat lingkaran di sore itu menjadi hening sejenak dan penuh empati. Dari bacaan hingga pengalaman yang beragam, dari kata-kata hingga peristiwa, semuanya berkelindan menjadi refleksi bersama di antara peserta Roompi Buku.

Menutup dengan Hangat

Dokumentasi Tim Roompi Buku/Salman Reading Corner

Acara Roompi Buku Sabtu sore itu resmi ditutup pukul 17.30 WIB dengan sesi foto bersama. Namun, beberapa peserta masih bertahan, melanjutkan obrolan yang belum usai. Bahkan sejumlah peserta ada yang inisiatif bertukar buku yang mereka bawa masing-masing. Hingga akhirnya, seluruh peserta Roompi Buku bubar menjelang magrib untuk mencari hidangan berbuka puasa (takjil) di sekitar kompleks Masjid Salman ITB.

Dari kegiatan sederhana ini membuktikan bahwa literasi bukan hanyal soal membaca, melainkan juga soal berbagi, mendengarkan, dan merayakan keberadaan kata-kata. Di lingkaran itu pula buku menjadi jembatan menuju pemahaman diri dan orang lain, bukan dipandang sebagai objek belaka.

Roompi Buku x FLP Kota Bandung menjadi semacam perayaan kecil atas perjalanan panjang FLP, sekaligus ruang refleksi tentang bagaimana karya-karya penulis FLP masih berdenyut di hati pembaca hingga hari ini. 

Terima kasih yang tulus kami sampaikan kepada seluruh peserta yang hadir, yang telah berbagi bacaan dan wawasan dengan penuh kehangatan. Dan tentu saja, terima kasih yang mendalam kepada kolaborator utama kegiatan ini, Salman Reading Corner, yang selalu membuka ruang bagi literasi untuk tumbuh dan bercerita. Salam literasi dan tetaplah rendah hati. []