| Suasana AI Writing Collaboration Workshop di kantor Makers Institute (Dokumentasi Tim Makes Institute) |
Ada momen ketika seorang penulis duduk di depan layar, menatap kursor yang berkedip tanpa henti, dan merasa buntu. Kata-kata seolah enggan keluar dari cangkangnya. Ia mengendap lama dalam pikiran atau justru terkungkung pada idealisme tulisan yang sempurna. Di titik itulah, kecerdasan buatan alias Artificial Intelligent (AI) hadir bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai kawan baru dalam berdiskusi, menghasilkan tulisan. Kehadirannya dapat mengubah cara kita menulis dan mengembalikan kembali api kreativitas. Itulah atmosfer yang terasa dalam AI Writing Collaboration Workshop, sebuah kolaborasi antara Forum Lingkar Pena (FLP) Kota Bandung dan Makers Institute.
Lokakarya ini berlangsung selama tiga hari pada 22, 24, dan 27 Februari 2026, setiap pukul 16.00 WIB hingga menjelang waktu berbuka puasa, bertempat di kantor Makers Institute, Jalan Hegarmanah No.28 Bandung. Lima orang peserta dari FLP Kota Bandung hadir, ditemani oleh Pak Faridz sebagai pemateri dari Makers Institute. Suasana sore yang tenang, menjelang petang, menjadi latar yang pas untuk belajar hal baru: bagaimana AI dapat menjadi alat bantu bagi penulis di era teknologi yang begitu cepat.
Tim Makers Institute membuka sesi dengan pengantar tentang paradigma dan fondasi AI. Dua jam dari setiap pertemuan diisi dengan teori, diskusi, dan praktik. Peserta tidak hanya menyimak pemaparan. Mereka langsung mencoba bahkan menyaksikan bagaimana AI bekerja. Dari menyusun kerangka tulisan, memperbaiki tata bahasa, hingga membuat satu artikel berita. AI diperkenalkan sebagai "alat" yang bekerja dalam beberapa lapisan (layering), memberi pengalaman nyata tentang teknik prompting yang bisa menjadi ide, dan kualitas prompt yang mencerminkan kualitas berpikir.
Diskusi berkembang ke arah yang lebih reflektif. Ada yang pertanya tentang orisinalitas, ada yang khawatir soal hak cipta, ada pula yang penasaran apakah AI dapat menggantikan profesi penulis sepenuhnya. Dengan santai, Pak Faridz menjawab kekhawatiran itu. Bahwa tanggung jawab intelektual penulis tidak akan hilang saat menggunakan AI. Ia menekankan pula bahwa penulis tetap menjadi pengendali sekaligus pusat kreativitas. AI hanya mempercepat, mempermudah, dan membuka peluang baru berdasarkan data yang diberi. Tanpa arahan manusia, hasilnya akan datar. Dengan latihan terus-menerus baik dalam menulis maupun prompting, setiap penulis dapat membangun user persona yang khas. Upaya ini merupakan salah satu cara yang dapat membedakan antara karya penulis dengan teks generik (hasil AI) semata.
| Pak Faridz (Tim Makers Institute) menjelaskan materi. |
Di industri penerbitan, AI bahkan sudah dipakai untuk kurasi konten dan strategi distribusi. Meski dipandang memiliki banyak fungsi, penulis atau pengguna AI dengan latar belakang apapun tetaplah harus kritis. Jangan menyerahkan seluruh kendali pada mesin. Suara manusiawi, pengalaman personal, dan kedalaman rasa tetap menjadi inti dari karya (tulisan) yang dihasilkan.
Dari berbagai uraian di sesi pertama dan kedua AI Writing Collaboration Workshop, muncullah istilah profesi masa depan seperti a narrative architect, a strategic thinker, dan an AI-augmented communicator. Semua istilah itu menggambarkan peran penulis yang tidak lagi sekadar menyusun kata, tetapi merancang narasi, berpikir strategis, dan berkomunikasi dengan dukungan teknologi.
Suasana lokakarya semakin hangat ketika menjelang magrib. Di akhir setiap sesi, meja sederhana di kantor Makers Institute dipenuhi hidangan berbuka puasa: es campur, tahu isi, bakwan, hingga cireng. Hidangan itu seolah menjadi simbol kebersamaan. Percakapan tentang AI pun berlanjut di sela-sela suapan, membuat momen di kala matahari terbenam itu terasa lebih bersahabat.
Lokakarya ini hadir bukan sebatas untuk memperkenalkan teknologi, tetapi juga menegaskan bahwa penulis tidak perlu takut atau ragu pada AI. Justru dengan memahaminya, penulis dapat lebih produktif, berani bereksperimen, dan menemukan suara khas di tengah arus teknologi yang begitu cepat. Di samping itu, AI membuka ruang baru bagi penulis untuk mengekspresikan diri dengan fondasi data, algoritma, dan komputasi.
Dari kegiatan ini, FLP Kota Bandung bersama Makers Institute telah menunjukkan bahwa literasi dan teknologi bisa berjalan beriringan. Penulis tidak kehilangan suara dan masa depan menulis bukan lagi tentang memilih antara manusia atau mesin. Masa depan itu adalah tentang kolaborasi yang saling menguatkan. []
| Foto bersama di akhir sesi hari pertama (Dokumentasi Tim Makers Institute) |
0 Comments
Post a Comment