| Foto bersama usai Diskusi Buku #3 membahas buku Bahasa Indonesia Bahasa Kita di Taman Film Bandung |
Gejala penggunaan bahasa asing yang semakin meningkat
menghadirkan tantangan bagi keberlanjutan bahasa Indonesia. Budaya berbahasa
asing dianggap lebih superior, bergengsi, dan intelektual, meski isi
percakapannya sering kali kosong. Jika dibiarkan, keadaan kebahasaan ini akan
semakin mengkhawatirkan.
Melalui Bahasa Indonesia Bahasa Kita: Akan Diganti dengan
Bahasa Inggris?, Ajip Rosidi menuangkan kritik dalam 17 esai yang membahas
persoalan penting seputar bahasa nasional dan bahasa daerah. Ia mengajak
pembaca untuk memikirkan kembali posisi bahasa Indonesia dalam kehidupan
sehari-hari.
Fenomena perubahan makna ini dipotret Ajip Rosidi dalam
dinamika politik bahasa pada masa Orde Lama dan Orde Baru. Pada masa
kepemimpinan Soekarno, kosakata seperti ganyang, retool, dan bongkar
menguat sebagai bagian dari retorika revolusioner yang sarat semangat
konfrontasi. Memasuki Orde Baru, muncul kata-kata seperti pembangunan, stabilitas,
tinggal landas, dan pemerataan yang mencerminkan wacana politik
saat itu. Dengan demikian, perubahan entri dalam KBBI bukanlah gejala yang
berdiri sendiri, melainkan bagian dari hubungan timbal balik antara bahasa,
kekuasaan, dan konteks sosial-politik.
Pembelajaran bahasa dapat diawali dari teks sastra. Cerpen,
puisi, novel, atau naskah drama menghadirkan bahasa sebagai konteks utuh.
Peserta didik tidak hanya mempelajari struktur kalimat, tetapi juga memahami
bagaimana kata membangun suasana, gaya bahasa memengaruhi makna, dan konteks
sosial membentuk tuturan. Sastra mengajarkan bahwa tata bahasa bukan aturan
kaku, melainkan perangkat untuk memperjelas dan memperkaya ekspresi.
Sebagai contoh, karya-karya Pramoedya Ananta Toer menunjukkan bagaimana sastra dan ketertiban bahasa berpadu. Tetralogi Buru menggunakan bahasa lugas, tertib secara sintaksis, efektif secara struktur, namun tetap kaya daya ungkap. Kalimat yang dibangun menunjukkan disiplin tata bahasa tanpa kehilangan kekuatan naratif. Kreativitas tidak harus bertentangan dengan keteraturan; justru keduanya saling menguatkan. []
------------
0 Comments
Post a Comment