Sejak pukul sepuluh pagi, delapan peserta berkumpul untuk mendiskusikan novel The Mysterious Benedict Society karya Trenton Lee Stewart. Diskusi dipantik oleh Ratih Sundari, Sekretaris FLP Kota Bandung, yang menghadirkan suasana belajar interaktif sejak menit pertama.
Alih-alih langsung memperkenalkan buku, Ratih terlebih dahulu mengajak peserta menebak sebuah sandi morse yang ditampilkan pada salindia presentasi. Satu per satu peserta mencoba menerka makna rangkaian titik dan garis tersebut hingga akhirnya jawaban berhasil dipecahkan bersama. Aktivitas sederhana itu menjadi pengantar yang menyenangkan sekaligus relevan dengan karakter novel yang sarat teka-teki dan mengajak pembacanya berpikir.
Memasuki sesi inti, Ratih mengungkapkan bahwa dirinya memilih The Mysterious Benedict Society berdasarkan rekomendasi seorang teman. Ketertarikannya tumbuh karena novel ini tidak hanya menawarkan kisah petualangan yang seru, tapi juga mengangkat isu-isu yang mampu mendorong daya nalar kritis pembacanya. Meskipun novel tersebut ditujukan untuk pembaca remaja, gagasan-gagasan yang dihadirkan tetap relevan dan menarik untuk dijadikan referensi bacaan bagi orang dewasa.
Ratih selanjutnya mengajak peserta mengenal lebih dekat identitas buku, para tokoh utama, alur cerita, hingga konflik yang membangun keseluruhan novel. Diskusi berkembang pada apsek cerita dan makna-makna yang tersembunyi di balik petualangan empat tokoh di dalamnya.
Dalam The Mysterious Benedict Society, empat anak berbakat direkrut oleh Mr. Nicholas Benedict untuk menjalankan misi rahasia. Mereka menyamar sebagai murid di Learning Institute for the Very Enlightened (L.I.V.E.), sebuah sekolah yang ternyata dikelola oleh tokoh antagonis sekaligus kembaran identik Mr. Benedict, yaitu Mr. Ledroptha Curtain. Di balik sekolah tersebut tersembunyi The Whisperer, sebuah mesin yang dapat menyampaikan pesan-pesan rahasia dan memengaruhi pikiran manusia. Melalui petualangan ini, Trenton Lee Stewart mengajak pembaca merenungkan pentingnya berpikir kritis, menjaga kebebasan berpikir, dan bekerja sama menghadapi manipulasi informasi.
Salah satu bagian diskusi yang paling menarik muncul ketika peserta mulai mengaitkan cerita dalam novel dengan realitas kehidupan sehari-hari. M. Irfan Hidayatullah, salah seorang peserta, menyoroti keberadaan The Whisperer sebagai metafora tentang cara informasi bekerja dalam kehidupan manusia. Menurutnya, media pada hakikatnya tidak pernah benar-benar netral. Setiap media membawa sudut pandang, nilai, dan ideologi tertentu yang secara sadar maupun tidak sadar disisipkan melalui informasi yang disampaikan. Dalam konteks novel, cara kerja The Whisperer menjadi gambaran bagaimana pesan yang terus-menerus diterima seseorang dapat membentuk cara berpikir dan memengaruhi keputusan yang diambil.
Novel ini secara tidak langsung mengajak pembaca membiasakan diri untuk mempertanyakan sumber informasi, mempertimbangkan berbagai sudut pandang, serta menjaga kemampuan berpikir secara mandiri di tengah derasnya arus informasi yang terus hadir melalui berbagai media hari ini.
Selama hampir dua jam, diskusi berlangsung berbagai tanggapan dari peserta. Novel yang semula dikenal sebagai bacaan remaja ternyata membuka ruang percakapan yang lebih luas tentang literasi, media, pendidikan karakter, hingga pentingnya menjaga kebebasan berpikir di era teknologi dan banjir informasi.
Melalui ruang diskusi seperti ini sebuah buku menemukan kehidupan barunya, melahirkan pertanyaan, mempertemukan beragam sudut pandang, dan mengajak setiap peserta terus mengasah nalar kritis sebagai bekal menghadapi realitas yang semakin kompleks. []
0 Comments
Post a Comment